terjemah

Selasa, 29 April 2014

Seuntai Kepercayaan Hadir Kembali


Seuntai Kepercayaan Hadir Kembali

Kriing!! Jam beker merah bentuk tas tepat di samping tempat tidur putih pink bear membangunkan majikannya dari mimpi indahnya. Hari ini adalah hari dimana aku harus bersiap-siap untuk study tour ke pabrik sosro bersama teman sekelas. Aku telah di bbm salah satu sahabatku, Chika untuk segera bersiap karena perjalanan akan dimulai pukul 08.00 wib. Namaku Vania yang biasa dipanggil Vani.
“Vani, kamu dimana sih? Lama amat datengnya. Untung gak telat!” Kata satu sahabatku, Jenny. Aku menggaruk-garukkan kepala tanda menyesal karena sudah hampir telat datang. Setelah guru pembimbing mengecek seluruh murid yang hadir, akhirnya kami pun berangkat. Aku mendengar musik sepanjang perjalanan yang akan ditempuh dengan waktu satu setengah jam.
Setelah tibanya disana kami semua pun segera masuk dan segera membuat laporan, yang kebetulan saya yang ditunjuk untuk membuat laporan oleh guru pembimbing. Anak-anak semuanya pun terlihat sangat senang dan mereka sangat tertib ketika mendengar penjelasan dari pengurus di pabrik Sosro itu.
“Wahh.. Akhirnya sampai juga di rumah, capeknya fiuh..”, kataku sambil merebahkan tubuhku di tempat tidurku.
Tiba-tiba aku melihat seseorang yang kukenal di rumah bibiku yang kebetulan beliau hanya tinggal berselang beberapa rumah dengan dimana aku menetap. Aku yang sedang berada di lantai dua melihat, ya benar, tepat, dia adalah saudaranya bibiku yang baru datang dari Jakarta. Aku baru ingat bahwa dia akan mengunjungi bibiku di bulan Desember ini.
Oh iya, aku baru ingat, liburanku di Jakarta 3 bulan lalu, di rumahnya, iya benar. Papa mamanya baik pada kita. Lelaki itu anak pertamanya. Namanya Andreas (panggilannya Andre). Mamaku mengajakku bertemu dengannya. Keluargaku pun berbincang-bincang dengan keluarganya. Lalu Andre menghampiriku, dia menanyakan kabarku dan kami pun berbicara tentang hari-hari kita selama ini.
Hari berikutnya papaku mengajak mereka semua untuk berjalan-jalan keliling Medan. Sepertinya kami semakin dekat, sampai beberapa hari berikutnya, Andre mengajakku untuk menemaninya ke pantai bersama abang dan adikku. Ketika abang dan adikku sedang bermain air (berenang), dia mengajakku berjalan mengelilingi pesisir pantai. Pantai yang amat indah. Sungguh nyata dan hebat ciptaan-Mu Tuhan.
Dia mengajakku duduk di atas pasir pantai. Kita sama-sama terpaku dalam kesepian, tak ada yang berbicara, hanya suara ombak pantai yang kami rasakan. Lalu aku pun memberanikan diri untuk mengangkat bicara, “Kenapa?”, dia menatapku, seakan ada suatu kesalahan yang terjadi padanya. “Kenapa kamu menghilang, setelah kamu bilang, kalau kamu menyukaiku?”, lanjutku. Dia melihat mataku dengan penuh arti. Dia pun berkata, “Maafkan aku, aku bukan menghilang, aku hanya takut memaksamu untuk menerimaku.”
Dia menghapus air mata yang jatuh di pipiku dengan kedua tangannya, “Aku tidak menerima selembar pun sms darimu setelah hari itu, dan aku berkesimpulan bahwa aku hanya pengganggu di kehidupanmu”, kata Andre sambil melihat ke arah ombak itu. “Bukankah kamu sedang ada tugas di Mesir setelah kejadian itu? Mengapa kamu mmengambil kesimpulan yang begitu cepat, apakah kamu tau bagaimana perasaanku saat itu?”, kataku.
“Maafkan aku, maukah kita memulainya dari awal lagi, aku telah menyakitimu, membuatmu menunggu sepanjang waktu tanpa kabar dariku. Aku menyukaimu, aku sayang padamu sejak awal kita bertemu di Jakarta. Tidak ada alasan, mengapa aku sangat mencintaimu, aku ingin selalu melindungimu dan berada di dekatmu.” kata Andre.
“Aku juga menyukaimu, Ndre.” Jawabku. Dia memelukku dan mencium keningku. Kita berdua pun jadian dan pantai inilah yang menjadi saksi cinta dua insan ini. Kami berdua pun segera beranjak untuk segera pulang. Hari ini adalah hari yang penuh arti, dua insan ini baru saja menjadi sepasang kekasih.
Hari-hari kami lewati bersama dalam suka maupun duka, walaupun jarak memisahkan kita, tetapi dia selalu mengunjungiku ketika liburan kuliah. Hubungan kami pun disetujui kedua pihak. Dan bulan depan, mama dan papaku setuju kalau kami segera bertunangan.
Tamat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar